KEKERASAN DAN SIMBOL ANGKA TUJUH DALAM KITAB KEJADIAN 4 SERTA RELEVANSINYA TERHADAP KEKERASAN SOSIAL KONTEMPORER

Yeheskiel (2026) KEKERASAN DAN SIMBOL ANGKA TUJUH DALAM KITAB KEJADIAN 4 SERTA RELEVANSINYA TERHADAP KEKERASAN SOSIAL KONTEMPORER. Diploma thesis, Universitas Kristen Indonesia Toraja.

[thumbnail of Halaman Judul] Text (Halaman Judul)
Halaman Judul.pdf

Download (481kB)
[thumbnail of Bab 1] Text (Bab 1)
Bab 1.pdf

Download (294kB)
[thumbnail of Bab 2] Text (Bab 2)
Bab 2.pdf

Download (370kB)
[thumbnail of Bab 3] Text (Bab 3)
Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (274kB)
[thumbnail of Bab 4] Text (Bab 4)
Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (474kB)
[thumbnail of Bab 5] Text (Bab 5)
Bab 5.pdf

Download (113kB)
[thumbnail of Daftar Pustaka] Text (Daftar Pustaka)
Daftar Pustaka.pdf

Download (189kB)
[thumbnail of Lampiran] Text (Lampiran)
Lampiran.pdf

Download (771kB)

Abstract

Kekerasan sosial kontemporer terus berkembang dalam pola eskalasi yang berulang, termasuk melalui logika pembalasan yang semakin intensif. Fenomena ini menemukan cermin teologisnya dalam narasi Kejadian 4, yang menggambarkan pergerakan kekerasan dari konflik batin Kain hingga deklarasi pembalasan Lamekh “tujuh puluh tujuh kali lipat”. Penelitian ini bertujuan mengkaji eskalasi kekerasan dan simbolisme angka tujuh dalam Kejadian 4 serta relevansinya terhadap kekerasan sosial masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan eksegesis biblika, melalui dua teknik analisis: analisis naratif dan analisis leksikal-semantik terhadap kata עַבֶׁש (sheva) dalam teks Ibrani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi Kejadian 4 membangun struktur eskalasi kekerasan yang bergerak secara progresif dari konflik batin, tindakan pembunuhan, hingga glorifikasi pembalasan. Angka tujuh berfungsi bukan sekadar sebagai nilai matematis, melainkan sebagai simbol sumpah ilahi dan kesempurnaan; sementara klaim Lamekh atas angka tujuh puluh tujuh merepresentasikan perampasan kewenangan Allah dalam urusan pembalasan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rantai kekerasan hanya dapat diputus melalui pengelolaan batin, penghormatan terhadap martabat manusia sebagai Imago Dei, dan penggantian budaya pembalasan dengan pengampunan sebagaimana dibalikkan secara teologis dalam Matius 18:22.
Kata Kunci: eskalasi kekerasan; angka tujuh; pembalasan; Imago Dei; hati.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BT Doctrinal Theology
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology
Divisions: Fakultas Teologi > Teologi
Depositing User: Unnamed user with username perpustakaan3_1
Date Deposited: 21 Oct 2026 07:00
Last Modified: 21 Oct 2026 07:01
URI: https://repo.ukitoraja.ac.id/id/eprint/1779

Actions (login required)

View Item
View Item